4K (KEJUJURAN, KESANTUNAN, KEDISIPLINAN, KEBERSIHAN)

 

Gas Sarin

Sarin, atau GB, adalah senyawa organofosfat dengan rumus [(CH3)2CHO]CH3P(O)F. Ini adalah cairan tidak berwarna, tidak berbau,[1] digunakan sebagai senjata kimia karena potensi ekstrem sebagai agen saraf. Ia telah diklasifikasikan sebagai senjata pemusnah massal di Resolusi PBB 687. Produksi dan penimbunan sarin dilarang oleh Konvensi Senjata Kimia tahun 1993 di mana ia diklasifikasikan sebagai Jadwal Substansi 1.
Sarin adalah molekul kiral (biasanya rasemat), dengan empat substituen melekat pada pusat fosfor tetrahedral.[2] The SP form (shown) is the more active enantiomer due to its greater binding to acetylcholinesterase.[3] Hal ini dibuat dari methylphosphonyl difluorida dan campuran isopropil alkohol.
CH3P(O)F2 + (CH3)2CHOH → [(CH3)2CHO]CH3P(O)F + HF
Isopropilamina ditambahkan untuk menetralkan hidrogen fluorida yang dihasilkan selama reaksi alkoholisis. Sebagai senjata kimia biner, dapat dihasilkan in situ oleh reaksi yang sama.

1. Sejarah Awal Pembuatan Sarin
Sarin adalah gas saraf dan senyawa organophosphorus. Berdasarkan informasi yang dihimpun detikcom dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sarin dikenal dengan GB. Cairan sarin tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa, dan mampu menyebar dengan cepat.

Gas ini pertama kali diproduksi oleh Gerhard Schrader dan tim pada 1938 di Jerman. Nama sarin merupakan akronim dari 4 ilmuwan yang mengembangkannya, yakni Gerard Schrader, Otto Ambros, Gerhard Ritter, dan Hans-Jurgen von der Linde.
Adolf Hitler sebenarnya pernah tertarik menggunakan sarin untuk Perang Dunia II. Namun tidak pernah dilakukan. Gas saraf ini pernah digunakan dalam dua serangan teroris di Jepang pada 1994 dan 1995.

2. Bagaimana Cara Kerja dan Penyebaran Sarin?
Sarin adalah gas saraf yang dapat menyebar dengan cepat ke lingkungan. Uap sarin ini sebenarnya tidak berlangsung lama, tapi jika terhirup dapat mematikan.
Jika sarin mengkontaminasi makanan atau air, akibatnya bisa fatal. Efek dari sarin dapat menyerang dengan cepat. Tapi hal itu bergantung pada jumlah sarin yang ada di udara, kondisi orang yang terkena, serta lamanya waktu paparan.
Gejala akibat gas sarin dapat terlihat beberapa detik. Saat sarin dilepas ke udara, orang dapat terkena melalui kontak mata maupun kulit. Mereka juga dapat terkena dengan menghirup udara yang mengandung sarin.

3. Seperti Apa Gejalanya Jika Terkena Sarin?
Seseorang tidak mengetahui dirinya terkena sarin karena sifatnya yang tidak memiliki bau. Sulit juga mengetahui apakah seseorang terkontaminasi sarin. Gejala jika seseorang terkena sarin, baik dari udara, kontaminasi melalui air, makanan, atau pakaian, dapat terjadi dalam hitungan detik. Berikut ini gejala yang akan dirasakan jika terpapar sarin dalam dosis kecil:
– Mata berair
– Ingusan
– Sakit mata
– Penglihatan kabur
– Air liur dan keringat berlebihan
– Batuk
– Dada terasa sesak
– Diare
– Mual, muntah atau nyeri perut
– Kebingungan
– Lemah
– Sakit kepala
– Denyut jantung lebih cepat atau lebih lambat
Bahkan, setetes sarin pada kulit dapat menyebabkan keringat berlebih dan otot yang berkedut cepat. Apabila terkena sarin dalam dosis besar, gejala yang akan dirasakan yakni:
– Hilang kesadaran
– Kejang
– Kelumpuhan
– Gagal napas yang menyebabkan kematian
Jika seseorang terkena dengan sarin, korban harus dengan secepat mungkin diberi perawatan medis di rumah sakit. Obat-obatan untuk menangkal gas perlu diberikan setelah terpapar sarin.

Suriah terus dirundung duka. Seakan berondongan peluru tak cukup, gas beracun mengambang di udara, terhidup rakyat negeri itu dan meracuni mereka. Tak butuh waktu lama untuk melihat mayat bergelimpangan, termasuk anak-anak tak berdosa.
Kematian dan lara begitu akrab dan dekat warga Suriah.
Serangan gas kimia dilancarkan di Suriah pada Selasa pagi (4/4), menewaskan ratusan orang yang mungkin baru hendak memulai hari. Gas beracun tersebut dijatuhkan oleh sebuah pesawat yang melintas di langit Suriah.
Gas maut tersebut, setelah diidentifikasi, merupakan gas sarin yang dikategorikan sebagai racun syaraf atau nerve agent.
Senjata kimia sesunguhnya telah dilarang dan dimusnahkan oleh PBB sejak awal 1990. Namun meski 90 persen dari senjata kimia dunia telah dihancurkan, masih ada 17 negara yang memiliki senjata tersebut di gudang mereka.
Korban senjata kimia sedang ditangani tim medis.. (Foto: AP)
Laporan Centers for Disease Control and Prevention menyebutkan, sarin merupakan racun syaraf yang mengandung senyawa organophosphorus. Senyawa itu hanya ditemukan dalam racun sanin, sementara gas beracun lain seperti klorin dan mustard yang pernah digunakan sebelumnya, tidak mengandung organophosphorus.
Sarin mirip dengan insektisida, baik dari segi kandungan maupun cara kerjanya yang mematikan. Bedanya, racun sarin memiliki dampak kematian lebih tinggi dibandingkan dengan insektisida.
Racun sarin bukan senyawa yang secara alamiah terbentuk di alam. Racun ini murni buatan manusia.
Pada awalnya, sarin dikembangkan sebagai pestisida di Jerman pada tahun 1938. Namun setelah diketahui dampaknya begitu kuat, sarin mulai disalahgunakan sebagai senjata kimia saat Perang Dunia II.
Racun sarin dapat diserap kulit dan paru-paru dengan cepat. Lebih mengerikan lagi, racun ini dapat bercampur dengan air secara sempurna.
Karena mudah bercampur dengan air dan udara, sarin tidak berbau dan tidak mudah terdeteksi. Sarin juga tidak berasa, sehingga mereka yang menghirup atau menyecapnya tidak akan merasakan hal aneh. Racun sarin dengan mudah diserap oleh kulit dan paru-paru.
Pada beberapa kondisi, racun sarin tak langsung membunuh. Namun bila dosis yang digunakan sangat tinggi, kematian sejekap menghampiri.
Setelah terpapar sarin, korban akan mengalami rasa sakit dan penderitaan berkepanjangan. Bila cukup beruntung, korban dapat diselamatkan. Bila tidak, ia akan dijemput maut dalam hitungan menit.
Sarin yang masuk kategori racun syaraf akan mengganggu sistem kerja neurotransmitter –syaraf untuk berkomunikasi dan bertindak. Sarin mengganggu frekuensi syaraf yang berfungsi mengangkut, memproses pesan (respons), dan menghindarkan neurotransmitter dari proses penghancuran sebelum pesan dapat disampaikan dengan tuntas.
Bila tidak dihancurkan, maka neurotransmitter akan mengirimkan pesan dan respon yang berulang terhadap tubuh manusia tersebut –lagi dan lagi.
Jika seseorang terpapar sarin, hanya dalam hitungan detik, racun sarin akan menghalangi kontrol otot halus –lapisan jaringan yang berfungsi mengontrol kerja perut, usus, dan kandung kemih agar bekerja dengan baik.
Bila kerja otot halus terganggu, maka sekresi (pengeluaran hasil kelenjar) jadi tidak terkontrol dan akan terjadi berulang-ulang. Akibatnya, mata akan berair terus-menerus, liur mengalir terus-menerus, disusul muntahan dari mulut karena usus dan kandung kemih tidak berfungsi dengan baik.
Pada korban yang terpapar sarin dengan dosis terlampau tinggi, ia akan mengalami kejang-kejang hebat, lalu lumpuh, hingga akhirnya meninggal.
Kerja sarin begitu cepat: hanya butuh kurang dari 10 menit untuk membunuh korban.
Serangan gas sarin kemarin, bukan yang kali pertama terjadi di Suriah. Pada 2013, serangan roket berisi racun sarin juga dilancarkan militer Suriah ke 12 daerah suburban Damaskus.
Serangan itu membunuh setidaknya 1.429 warga, dengan 426 di antaranya adalah anak-anak. Gas kimia tersebut juga melukai setidaknya 2.200 warga.
Suriah bukan satu-satunya negara yang pernah merasakan serangan racun sarin. Tahun 2004, Irak pernah diserang dengan sarin oleh teroris Islam. Serangan ini sebetulnya ditargetkan kepada prajurit Amerika Serikat yang tengah berjaga di area Bandara Baghdad. Dua prajurit AS tewas dalam serangan ini.
Selain negara Timur Tengah, Jepang juga pernah diserang dengan racun sarin pada tahun 1994 dan 1995. Serangan itu dilakukan oleh pengikut aliran Aum Shinrikyo, tokoh yang menyatakan dirinya sebagai Kristus.
Mereka melancarkan teror sarin tengah malam pada 28 Juni 1994 di kota Matsumoto. Tujuh orang tewas dan 270 terdampak serangan tersebut.
Pengikut Aum Shinrikyo tak cuka sekali itu beraksi. Mereka kembali melancarkan teror sarin pada 20 Maret 1995. Serangan dilakukan di stasiun kereta bawah tanah Tokyo. Gas dilepas di dalam gerbong kereta, membunuh 12 orang dan melukai 5.511 orang.
Bahaya besar dari sarin tak bisa dibiarkan begitu saja. Sepatutnya dunia bertindak tegas terhadap pengguna Sarin.

Oleh: Nur Ali, S.Pd
Guru IPA SMP PGRI 2 Ciledug

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *